TintaOne.com, Halsel – Pulau Obi adalah Etalase kemajuan Industri Nikel Nasional, namun di balik citra gemerlapnya, ironi pahit dirasakan oleh warga Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan.
Pada Sabtu 15 November 2025 dini hari, puluhan warga kembali turun ke jalan di jalur Holing Pos Rawa, menuntut keadilan akses terhadap kebutuhan dasar yakni, Listrik Stabildan Air Bersih.
Aksi damai yang sempat menghambat aktivitas logistik perusahaan ini menjadi penanda bahwa publikasi masif mengenai kemajuan kawasan industri dan program tanggung jawab sosial (CSR) yang dibangun Harita Group, tidak sepenuhnya mewakili kondisi dasar hidup masyarakat yang tinggal tepat di jantung operasi.
Listrik “Mati-Hidup” di Pusat Energi Raksasa
Sorotan utama dari aksi warga adalah kondisi listrik di Kawasi yang dinilai sangat tidak stabil. Juru bicara aksi menanyakan sebuah pertanyaan retoris yang menusuk.
“Bagaimana bisa kawasan industri raksasa terus menyala, sementara lampu di kampung kami mati-hidup? Kalau bicara keadilan, di sinilah rakyat merasakan jurangnya,” tegas salah seorang warga dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung dengan damai itu.
Dikatakan, ketidakstabilan pasokan listrik ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan penghambat vital bagi aktivitas sehari-hari. Mulai dari urusan rumah tangga, kelangsungan usaha kecil, hingga yang paling krusial, terhambatnya kebutuhan pendidikan anak-anak di malam hari.
Warga merasa, skala energi yang digunakan oleh industri harusnya berbanding lurus dengan kepastian pasokan bagi pemukiman terdekat.
Antrean Air Bersih di Tengah Narasi Fasilitas MegahÂ
Selain listrik, krisis air bersih menjadi keluhan yang paling mendasar. Seorang ibu rumah tangga yang ikut serta dalam orasi mengungkapkan jurang antara citra dan realitas.
“Publik melihat video-video indah dan fasilitas megah. Tapi di dalam kampung, warga masih antre air. Ada yang harus membeli, ada yang menampung dari sumber yang tidak layak,” ungkap seorang Ibu Rumah Tangga yang ikut dalam demontrasi siang tadi.
Laporan di lapangan menunjukkan sejumlah warga harus mengandalkan air dengan kualitas yang tidak memadai. Distribusi air bersih dari pihak perusahaan atau pemerintah setempat dinilai tidak merata dan tidak rutin, terutama bagi warga yang tinggal di pemukiman relokasi atau area yang berdekatan langsung dengan kawasan industri. Ketersediaan air bersih telah berubah menjadi komoditas mahal yang tidak terjamin.
Menuntut Keadilan Akses, Bukan Menolak Industri
Dalam gerakan tersebut, Warga Desa Kawasi menegaskan bahwa mereka tidak menolak keberadaan industri. Tuntutan mereka berfokus pada keadilan akses layanan dasar yang seharusnya menjadi prioritas utama pembangunan:
- Listrik stabil untuk seluruh pemukiman warga.
- Air bersih terjamin melalui distribusi yang teratur dan pembangunan jaringan air permanen.
- Hunian layak dan jelas statusnya.
- Kesempatan kerja yang transparan bagi warga lokal.
Dalam aksi di Pos Rawa, warga menambahkan tuntutan agar mereka dilibatkan dalam evaluasi dampak industri terhadap ketersediaan air dan sanitasi. Mereka juga menuntut adanya kepastian layanan dasar ini sebelum perusahaan memperluas kegiatan operasi di sekitar Kawasi.
Warga menegaskan bahwa aksi mereka adalah bentuk keprihatinan damai terhadap kondisi hidup sehari-hari yang dinilai tidak sebanding dengan citra kemajuan industri yang gencar dipublikasikan.
Aksi Kawasi kembali membuka kenyataan yang kerap tenggelam di balik panggung besar industri: Pembangunan Tidak Hanya Diukur dari Gedung, Pabrik, atau Laporan CSR.
Pembangunan sejati harus diukur dari terpenuhinya hak dasar masyarakat yang tinggal paling dekat dengan pusat operasi. Jika Obi menyala terang dengan industri raksasanya, maka lampu di kampung Kawasi harusnya menyala lebih dulu.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Harita Group maupun pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Selatan belum memberikan keterangan resmi terkait aksi warga Kawasi ini.
***
